Tuesday, October 9, 2012

Maria

Wahai Maria
Apa yang kau emban sewaktu dia dalam perutmu?
Apa yang kau pikir hingga kau terima kemana-mana?
Sehingga banyak pohon yang iri,
banyak batu yang terus menggerutu
Karena tidak kau kunjungi..

Wahai Maria
Sejauh kehidupanku kini, aku telah buta
Buta akan putramu yang seketika ada
Buta akan keberadaanmu yang selintas ada
Namun kasih sayangmu tetap menggoda
Seperti burung angsa yang terbang membentuk namamu
Dihati..

Pondok Bambu, 2012

Friday, October 5, 2012

Semoga

Dari sekian ribu langkah, satu persatu aku beri tanda akan keberadaanku, yang sedikit demi sedikit tertinggal karena ketidaktahuanku pada apa yang terjadi. Semoga..

Thursday, October 4, 2012

Rindu ku kamu,....


Tahukah kamu,…
rindu slalu bersayap,
slalu mampu memintas jarak.
Tahukah kamu,…
bahwa rindu menghangatkan hati,
menenggelamkan kelelahan menanti.
Tahukan kamu,…
bahwa rindu adalah candu,

slalu menagih dan lagi.
Tahukah kamu,…
bahwa rindu ini padamu.

 * Dedicated : Pemilik Rindu *











                    Image From Google
 
 

Rintik Hujan


Diantara rintik hujan, aku cari penggalan doa-doamu. 
Adakah tertulis namaku disitu?

Wednesday, October 3, 2012

Anakku

Tak sanggup aku menahan pikiran yang bepergian jauh berusaha menyentuh raut wajah yang tersembunyi dibalik hangat rahim kasih sayang. Tak sabar aku menunggumu anakku.

Tuesday, May 1, 2012

Getir

sebuah nada kesedihan
dimana harapan tak memuncak
dan impian mustahil untuk berlabuh

karena pada akhirnya,
semuanya hanya berujung pada kesia-siaan

Arif Chasan - 1 Mei 2012

Wednesday, April 11, 2012

Nada Khayal


bahagia itu sederhana.
contohnya adalah hadirmu dalam mimpiku semalam.
bayangan yang terlihat nyata itu sungguh menyejukkan malamku.
jikalau memang hadirmu hanya dalam mimpi.
rela sekali aku hidup dalam mimpi itu selamanya.
karena bahagia itu kamu.

sayang, hadirmu dalam mimpiku tak sesering aku memikirkanmu.
lamunanku akan dirimu tak terbantahkan.
kadang pilu, melihat bagaimana diriku sekarang

aku memanggilmu bahagia
aku juga memanggilmu kelembutan
karena kamu adalah cinta
cinta yang tak pernah kusentuh
tak berani kutatap

karena kamu....
... aku mengenal cinta

Arif Chasan - 11 April 2012

Saturday, February 25, 2012

Kamu

Tak harus berjalan dengan lututmu
Tak perlu juga membungkuk terlalu dalam
Tak harus menjadi bagus di mata mereka

Apa yang kamu lakukan, lakukanlah..
Merpati takkan pernah bisa terbang tinggi
bila dia terus memperhatikan Elang

Kehidupan ini adalah,
Apa dan siapa kamu
Bukan berapa dan banyaknya uangmu.

Pondok Bambu Permai, 2012.

Wednesday, November 23, 2011

Sungai

Cintailah aku seperti aliran sungai Nil
Tiada berhenti atau putus
Bisik pohon tempatku berteduh.

Tangisku meledak seperti letusan merapi
Tersenggal-senggal dan putus
Diantara kesenanganku tubuhmu berpeluh

Pondok Bambu, 2011

Friday, November 4, 2011

Bulan dan Matahari

Ku tulis resah - gelisah - mengiringi angin
Seakan merindu bulan, padahal aku matahari
Membakarmu dari kejauhan - semata.

Pondok Bambu, 2011.

Wednesday, September 21, 2011

Sesaat,...




Entah apa label rasaku padamu,
terlalu bias dan samar,
ada riang yg mendadak datang,
dan udara mengembun sesaat ketika kau hilang.

Hari-hari adalah warna,
segaris tipis kau menjadikan jingga
cukuplah perturutkan rasa,
hanya sesaat matamu mengendap disudut jiwa,
sesaat saja, cukup rasanya....



Sunday, June 26, 2011

Terlalu indah

Saat cakrawala itu menyentuh bumi,
hanya sayatan akan kenangan yang mulai terlihat pudar,
bukan benderang tentang hiruk pikuk dalam sepi,
semua ini kusam, tak berbentuk, dan hanya patuh akan waktu,

cahaya itu tak bisa kulihat,
disaat semua orang memuja akan keindahannya,
aku terheran dengan kebutaanku,
apa yang sebenarnya mereka lihat? aku juga ingin mengaguminya,
dan akhirnya, sampai saat ini aku masih buta,

sebenarnya,,,
aku tak ingin berbeda,
aku juga tak ingin terasing,
namun semuanya tampak berbeda,
akupun dengan sendirinya terasing,

semoga saja yang kuyakini ini benar,
aku bisa mendapatkan cahayaku sendiri,
mendapat ketentramanku,
dan bahagiaku untuk diakhir,
yang berarti awal dari sebuah keabadian,

antara sepi, keyakinan, dan prinsip
*aku yang melihat mayoritas disekelilingku
*Arif Chasan | 26 Juni 2011

Tuesday, June 21, 2011

TERUSLAH MELANGKAH

Dari setiap kenangan yang pernah terjadi 
Menbuatku tegak berdiri jauh lebih kuat 
Menjadi orang yang semakin mengenal diri 
Dan bisa lebih berkompromi dengan situasi yang tak diingini 


Saat kudengar orang meneriaki ku 
Aku takkan peduli, aku akan bangun 
Beban akan mengalir lebih cepat dari kita kita fikirkan 
Berani dan percaya pada diri 
Caci-maki akan berubah menjadi puji 
Dan orang-orang akan bernyanyi untuk kemenanga ini 


Melangkah dengan pasti 
Dan percayalah selalu ada yang akan menjaga arah 
Jangan pernah menyerah 
Halangan dapat menjadi lebih mudah dari yang kita kira 


 Yogyakarta, 19 Juni 2011

Monday, June 13, 2011

Mimpi

Dari semua gerak

setiap lakumu

selalu terlukis dimataku


Mungkin hanya disaat tidur aku bisa mendapatkanmu utuh.


Bekasi, 2011

Saturday, June 11, 2011

Senyum Kecil di Suatu Malam

Yang malam ini ketika aku diam tiba-tiba kau buat aku tertawa
Yang malam ini ketika aku berdoa tiba-tiba kau datang bagai sebuah jawaban
Yang malam ini ketika aku merasakan hati pada relung terdalam tiba-tiba kau membuatnya bergetar


Aku tertawa kecil....
Ketika menyadiri perlahan padanganku mulai dapat melihat kembali di keadaan yang suram


Apa kau penjual kaca mata di hari menjelang senja??
Ah... tidak! aku tak pernah mengeluarkan speser uang pun untukmu...
Atau memang itu kehidupan yang sudah bergaris
Tapi benar setelah kehadiranmu jalan itu mulai terlihat lagi
Aku ingin berjalan meski tak yakin benar apa aku masih ingat bagaimana cara berjalan


Kulihat kau tersenyum manis
Apakah itu sebuah tawaran atas kesediaanmu memapahku???


Yogyakarta, 10 Juni 2011

Saturday, June 4, 2011

Altar

Terdengar bisikanmu manakala aku tidur.

"Hei, apa yang kau impikan?". Tanyamu. Aku bingung, disini aku seperti duduk di altar angkasa dan menunggu bumi muncul menggoda matahari.

Malang, 2011.

Friday, May 6, 2011

Penghakiman

Kadang laut tak begitu jernih, bahkan langit pun tak secerah biasanya. Duka dan rintihan akan sayatan masa lalu begitu menggempar dalam jiwa seorang musafir. Harapan hanya tinggal kenangan, kejayaan dan kemasyuran masa lalu terlindas oleh kenyataan hidup yang begitu tajam bagai sayatan-sayatan kebencian.

Kini, semua ceria dan kebahagiaan itu menjadi renta. Terbungkuk dan terbatuk dimakan usia. Bahkan kulit keemasaan itu telah mengeriput dan kasar. Tak ada lagi kelembutan dan kehangatan. Tak ada lagi belaian kasih yang tertumpah. Tak ada. Tak ada. Dan tak ada.

Setelah semuanya terlalui, dunia hampa yang kini ditinggali. Terduduk bisu, menangis perih, mata yang berkaca hanya karena ingatan masa lalu. Debu-debu menari seolah mencerca batin yang sudah tersayat ini. Semua orang memanggilnya dengan “penyesalan”. Tapi bagiku, ini adalah “penghakiman”. 

Arif Chasan
5 Mei 2011