Kita adalah Air, Rumah kita Air Terjun.

Wednesday, March 11, 2009

Nenek dan Pohon Tua.

Beranjak dari batu kehitaman yang tiada mau melepas pantatku, aku mengunjungi tepian sungai bening, tempat dansa serpihan-serpihan kekayaan Indonesia yang selalu mengerling ketika matahari menyapanya. Dimana lama sudah digadaikan dalam ranah darah orde baru dengan hitungan 5% Pak Tua, 5% kaki kanan dan kirinya serta 5% bagi 220 juta jiwa lainnya dari ujung sabang sampai tepi batas anak emas Belanda di merauke.

Sayuh kakiku membangunkan desir air yang langsung terlonjak dan tersenyum bulat karena geli terkena bulu halus kakiku. Aku menyambut senyumnya, sembari tangan menyisir rambut untuk meyakinkan keberadaan di dalamnya bukan makhluk asing. Setelah menempuh perjalanan 7 jam dengan ditemani mata 10.000 jam terbang beserta garuda tak bernyawa, terasa sungguh kedamaian ini mengetuk mataku agar tiada meneteskan liur atas girangnya hati memasuki garba keindahan beserta bulu-bulu lembutnya. Disitu, dalam beningnya kaca karya Tuhan, udang-udang kecil berlari tersipu melewati kerling tarian cahaya senggama matahari dan bulir kuning, "Ah...aku ingat kembali 5% itu", sesakku. Hingga gurauan genit udang-udang kecil yang mencoba menggodaku pun terlewati tanpa menjejakkan kesan di utak-utik-otakku yang serba ingin tahu kemuskilan muka para penjaja alam maha kaya ini.

Pohon-pohon tua memandangiku seraya memelas, seakan ingin mengatakan "Jual saja aku, tapi demi anak-anakku". Ya, aku tahu keinginan kalian. Akan aku coba untuk mengatakan itu pada mereka. Mereka yang semakin tua semakin lupa dimana arti keindahan garba perawan penuh bulu lembut berbau harum serta menggairahkan. "Pohon besarku yang tua, ijinkan aku memelukmu, sebagai ganti pelukan untuk para pembebas berjiwa satria tanpa penuh menuntut", pintaku. Sebelum sempat terjawab, rentang tanganku bergerak lebar memelukmu, terasa keciiill... bandingan kepahlawananmu dengan gemeretak langkah yang selalu aku banggakan. Detak jantungmu sehangat pahlawan pengharum bangsa, sewangi burberry yang tercium di rambut panjang Kalimantan. Dimana... "Ah... kembali ada 5% disitu", aku terisak.
Kicau suara merak memanggil mengajak kembali dalam atap kecil berhias panah dan menggandengku menuju tetua, "selamat datang kembali..". Selanjutnya aku gauli dipan yang pernah membuatku lirih menulis.

"Nenek mau kemana...?" tanyaku.
"Nenek mau ke Jakarta nak, mau ngurus truk - truk yang kena masalah di Mabes Komdak”. sahutnya. Selanjutnya aku saksikan nenek itu memelukku, tanpa tangis, tanpa sedih, penuh ketegaran. Nemun meninggalkan pahatan sayat di dada, dengan bau mesiu serta letupan granat yang memekakkan telinga. Seketika desing peluru melintas tepat di depan mata mencolek bulu mataku. Aku berontak takut, berlari menghindari terjangan senapan berlaras panjang serta kejaran motor hijau. Tak terasa pelarianku disusul munculnya berragam muka semangat yang terpaksa menghindar. Kami berlarian tumpang tindih diikuti gamelan kaki tanpa sepatu dan batu yang selalu bersedia tanpa marah untuk diinjak. Pletak! Braak!!!. Kepalaku terantuk pelipis dipan yang menjadi teman tidurku.

Mimpi ini kembali datang untuk kedua kali, Nenek Poniyem yang pernah aku temui dalam perjalanan Tasik Malaya-Jakarta. Betapa berat menyandang nama pahlawan hidup, mungkin lebih mudah menjadi pahlawan mati. Nenek, usiamu mendekat 90. Seragammu ternyata tak mampu menyelamatkan kehidupanmu. Pahatanmu masih tersimpan di sekujur tubuhku, juga hati dan benakku. Nenek dan Pohon tua, dunia kalian berbeda namun nasib menyamakannya. Dengan sekian banyak 5% yang menggunduli otak suci para pembantu rakyat, habis pulalah kekayaan Indonesia serta habislah penghormatan akan pahlawan Indonesia diluar "keluarga".


note :
Kerinduanku akan Papua, 2006.
Kerinduanku akan Nenek Poniyem, pahlawan hidup yang banyak menginspirasi semangat dan tinggal di Tasik Malaya. 2008.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Nenek dan Pohon Tua.

33 comments:

  1. pengen balik ke papua lagi ya... huaaaa... diriku baru tau nama mu di FB beda bukan dexter walahhh....

    ReplyDelete
  2. Hi Friend.. Interesting post.. Nice blog.. Keep up the good work.. Do find time to visit my blog and post your comments.. Take care.. Cheers mate!!!

    ReplyDelete
  3. nice puisi, thanks dah mampir...

    ReplyDelete
  4. Nenek Poniyem yang hebat
    Pahlawan berusia 90 tahun
    Salut mas,
    Hmmm Nice Poem

    Salam kenal ya

    ReplyDelete
  5. Pohon-pohon tua di tanah subur yang menghitam
    Pohon-pohon tua di tanah hijau yang menggundul
    Entah sampai kapan mereka khan kokoh berdiri
    Entah sampai kapan hijau tanah liatku berganti kuning mengering...

    ReplyDelete
  6. rangkaian kata2nya nikmat untuk dibaca. keep it up. thanks kunjungannya

    ReplyDelete
  7. Cerita yang bagus...aku suka kaliatnya-kalimatnya yang mengalir indah..
    nenek Poniyem yang hebat ...kadang dari mereka inilah kita bisa belajar arti bersyukur dan berjuang untuk hidup...

    ReplyDelete
  8. duh, sekarang ini agaknya susah membedakan siapa pahlawan dan siapa pecundang, mas kika. agaknya kedua predikat ini beda2 tipis. pecundang bisa jadi pahlawan, pahlawan pun bisa berubah jadi pecundang.

    ReplyDelete
  9. duh
    saya gak sempet baca postingan ini
    tapi yg quote" awal itu looh
    anjriiitt..
    keren..

    ohya, salam kenal bos!!

    ReplyDelete
  10. Ceritnya daleemmmm sekali….

    ReplyDelete
  11. kata dan kalimat nya begitu dalam, awalnya saya masih bingung, namun setelah membaca secara keseluruhan ternyata mudah dipahami dan dimengerti, mengalir begitu indah dan mampu mengena di hati pembacanya, sip banget! :)

    ReplyDelete
  12. susunan kalimat yang mengalir tenang namun tepat pada sasaran. oh nenek poniyem..

    ReplyDelete
  13. kalo saya belom pernah ke papua, pengen jg kapan2 ke sana

    ReplyDelete
  14. indahnya rindumu tak seperti rinduku..
    indahnya sayangmu tak seperti sayangku..
    itu sudah terukir di kokohnya langit jagatraya..
    dan akupun tak mampu merubahnya..

    biarkan rindu itu berlalu..
    seiring waktu mengajarkan kita..
    untuk melihat indahnya dunia..
    dan memahami seberapa besar yang tlah kita tinggalkan..

    detik ini tak akan kembali..
    dan kadang setetes air mata mampu menenangkan hati..
    waktu ini tak akan berhenti..
    hanya untuk menunggumu bermimpi..

    sayang rindumu tak seperti rinduku..
    sayang langkahmu tak seperti langkahku..
    andai aku mampu merubah ceritaku..
    andai aku mampu merubah kisahku..

    ReplyDelete
  15. the dexter..
    hmm..
    dejavu nh..

    mas dexter penulis y?
    ud puny buku ap aj?

    ReplyDelete
  16. pa kabar sob..ironi bgt setingan tulisanmu..keren..

    ReplyDelete
  17. Cara mengungkapkan kegelisahan dengan puitis. Salam kenal.

    ReplyDelete
  18. hmm... geram, tapi tak usah disesali. toh, masih banyak yg bisa dilakukan buat negeri ini. walaupun sedikit, setitik. bukan untuk membuat perubahan yg besar, hanya untuk sekedar membuktikan pada diri sendiri, bahwa kita masih punya nurani.

    eehmm... begitulah...

    pis !

    ReplyDelete
  19. nice writing mbah Kika, keep up your good work dan teruslah menulis...?

    ReplyDelete
  20. gurat kecewa bahkan pertanyaan yang senantiasa terlontar barangkali yang kubaca di posting ini...

    hm...pertanyaan yang mengusik...

    salam,
    hezra

    ReplyDelete
  21. ngintip om dexter, mampir malem mingguan..puisinya tambah cihui euy..
    salut

    ReplyDelete
  22. leave secuil kata ya... dexter..

    pesona alam tiada terbanding
    dari tangan kuasa untuk disyukuri
    pohon menjulang dan rindang
    serta bunga berhias mewarni
    hamaparan rerumputanpun tetap mengerling

    namun manusia jarang bersyukur
    malah berpora ambil sesuka
    babat hutan hingga akar tersungkur
    atau bakar hingga rata
    gantikan gedung mewah sambil mendengkur

    ReplyDelete
  23. Kangen..jadi buat tulisan yang bagus, seperti kangennya bli' Nanog dgn Bandit hehe...

    ReplyDelete
  24. Kerinduan akan papua? hhmm....Nnenk poniyem contoh orang-orang yang bersyukur. Salam hangat kembali...

    ReplyDelete
  25. Memang obat rindu beraneka ragam, seperti untaian kata di atas yang menghanyutkan..:)

    ReplyDelete
  26. nyepam dulu ya mas dexter..nanti balik lagi..belum tuntas bacanya nih

    ReplyDelete
  27. Meski getir, namun rawianmu terasa mendayu-ndayu.

    Meski mendayu-ndayu, namun rawianmu terasa getir.

    Aku terkelu.

    ReplyDelete
  28. wah kata - katanya euyyy, kapan bs buat kt2 halus ky gitu yah?

    ReplyDelete
  29. apa kabar bro.... makin mantap aja nih ma prosanya.. Sukses ya..?

    ReplyDelete
  30. awesome post..lama saya mencerna satu persatu kata-katanya..
    ironi yang kontras ya..pahlawan yang tampakanya tidak mendapatkan perhargaan ditengah kekayaan yang melimpah ruah. nasib para atlit nasional kita yang pernah mengharumkan nama bangsa juga demikian nasibnya..memilukan..

    boleh ngga saya minta tolong pls..buatkan puisi tentang perkenalan, pertemuan dan perpisahan..

    ReplyDelete
  31. pakabar mas,
    masih banyak nenek2 Poniyem lain dan masih banyak pohon2 tua lain meranggas tak jelas...
    kerinduan itu semoga lekas terobati

    ReplyDelete

Aku hanya manusia biasa, beri kata-kata bukan jura..