Kita adalah Air, Rumah kita Air Terjun.

Thursday, February 19, 2009

Kemuning

Disitu rupanya kau sembunyikan wajahku,
garis sapu melukai lantai
kala racikan dupa tiada nama
sembelitku ingin menghajarmu

Disitu rupanya kau lukis wajahku
hanya ada kamu dalam belahan jiwa
bukan maksud hati mengiris
namun untuk menetaskan lukis

Sisipan kemuning di telinga
memancarkan kamboja di mata mu
ubahkan padimu menjadi rumput
maka gunung kembali menjadi samudera


Untuk Mbakyu Nad.
Sore di Negara, Jembrana, Bali.
Nanoq Da Kansas Office.
19-02-2009

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kemuning

22 comments:

  1. disini rupanya kau ukir namaku
    diantara garis garis pelangi senja

    disini rupanya kau ikat hatiku
    ditempat yang jauh dari sudut ruang jiwa

    ReplyDelete
  2. disini kulihat padi menguning
    disana kulihat padi mengering

    disini petani menjadi raja
    disana petani diinjak raja...

    *nggak nyambung... kabuuur...*

    ReplyDelete
  3. Lagi kangen dg seseorang Ka?
    Jambangin aja. kalau dua2nya
    berdiam diri, gak ada endingnya
    dong. Ayo Ka, kamu pasti bisa
    (bukan iklan lho).(harina)

    ReplyDelete
  4. kenapa kau harus jauh di sana?
    kenapa jarak ini membuatku tak bisa melihatmu?
    apa maksud semua ini?
    aku hanya bisa berteriak menyebutkan namamu, tanpa bisa meraihmu ataupun memandangmu..

    ReplyDelete
  5. Wow... puisi ini surprice sekali, hebat

    ReplyDelete
  6. dinamapun jiwa itu tertata
    takkan mungkin dapat diterka
    maka hanya pribadi yang merasa
    serta Tuhan yang merengkuhnya
    indah atau gelapnya rahasia jiwa

    jika mungkin terbagi serasa
    hanya jadikan batasan tuk caci kata
    hingga sebagai manusia
    menyadari jiwa-jiwa lainnya
    layak pula medapat cinta

    ReplyDelete
  7. Kemuning... kuning...mengering...

    ReplyDelete
  8. hehehe di dusun senja ada kemuning
    tertancap di lesung batu
    mati dan kaku
    tapi tak bisu

    (aku gak bisa buka blognya Mentari. hhhh...)

    ReplyDelete
  9. aduh, bahkan nulis namaku sendiri aku salah...

    ReplyDelete
  10. Hay..
    sudah sampe Jkt nihhh
    apa oleh2nya dari Bali??

    ReplyDelete
  11. kemuning, kemuning...
    lihat lambaianku, lemah layu
    seperti daunmu yg tersekap waktu
    ...

    kuwi, sepenggal tulisanku yg berjudul 'kemuning' juga, minggu lalu pas kongkow ning cedak kemuning. hahaha...

    ReplyDelete
  12. halo..dah sampai rumah nih kayaknya bang.......

    ReplyDelete
  13. disini kulihat puisi yg tak lagi huruf yang berbaris. tetapi ketajaman memaknai peristiwa dgn cara yang sangat khas

    ReplyDelete
  14. Hello..aku berkunjung nih, ternyata kerjanya sama dgn bli' nanoq ya?

    ReplyDelete
  15. dahsat...
    maka gunung menjadi samudera
    kata yang indah sekali

    ReplyDelete
  16. @gadis Rantau
    hemmm selebritis blog
    @Umi rina
    sotonya kirim kesiniiii
    @harina
    makasih kak hehehe...
    @Rampadan
    Iya susah banget...
    @Azziti
    puisimu menggetarkan
    @bang taboq eh nanoq
    hehehe...indonesia kecil.
    @Atca
    ga ada oleh2 caaa...
    @goenoeng
    makasih kemarin di smrg
    @bang Boy
    Makasih jamuannya di denpasar
    @mr. Gus...
    sungguh mulia dirimu
    @linda
    tanya saja kepada yg bersangkutan.
    @suryaden
    tidak sedahsyat dirimu kang.

    ReplyDelete
  17. setubuh dengan kang suryaden, kulik2 katanya menghantam imaji dangkal seorang picisan kayak aku [lebai pol]

    xixixixiixixixi

    ReplyDelete
  18. jahhhh, ing ngerti tiyang bli jak puisi :D

    buat seseorang ternyata..hehehe

    salam kenal ;)

    ReplyDelete
  19. aku suka tuh surat cintanya WS Rendra

    ReplyDelete
  20. Duh serasa terhanyut kalo udah mas dexter bikin puisi..kok bisa ya sebegitunya..kalo saya ngga buat kayaknya kacau deh puisinya malah jadi pantun..

    Thanks koreksiannya ya..nanti saya edit ulang deh..

    ReplyDelete
  21. suwun puisinya Ka. It's so nice poem

    ReplyDelete

Aku hanya manusia biasa, beri kata-kata bukan jura..