Kala aku menuju Presiden,
TNI dengan militernya tentu tidak akan suka melihatku,
mereka akan tersisih keluar dari kota,
hanya menjaga perbatasan bukan kekuasaan..
Mereka takut seragam tidak lagi membuat takut,
hidup di darat tiada juga membuat mereka ingat akan darat,
tawar menawar hanya membuat malu muka mereka,
TNI pun membersihkan senjata...
Sapaan dan gurauan tidak jadi bahan candaan,
hampir sama dengan bintang yang ingin melebihi penciptanya,
tapi tidak kala aku menuju Presiden,
Polisi akan kembali menjadi Polisi bukan preman,
Hukum adalah senjata,
Manusia adalah pelatuk,
dan kala aku menuju Presiden,
Jenderal pun akan belajar menembak lagi..
Sudah wajar konglomerat takut melarat,
maka manakala aku menuju presiden,
baru kenalpun menitip tanda mata,
"Maaf, lihat dulu daftarmu",..
Friday, December 26, 2008
Aalia
Secarik semangat terus ku tarik demi masamu,
Secarik nafas terus aku kejar menjagamu,
tiada waktu berhenti,
tiada pula mati...
Kamu sungguh menggairahkan,
Kamu sungguh melupakan,
Maaf, bila aku sedikit meninggalkanmu,
karena itu untuk kembali kepadamu..
Waktu itu kamu berjanji akan menjaga,
meniscayakan percaya menghilangkan murka,
aku mengerti,
meski tidak pasti..
Esok lusa aku akan berjalan menuju fajar elok nun jauh disana,
semua hanya untuk kembali kepadamu,
tautan kegilaan hati, hanya kepadamu,
dan kepadamu..
Akan aku ambil serpihan-serpihan kelopak bunga,
ku rangkai dan ku bingkai untuk persembahanmu,
Sebelum semua mengetahui, sudah tersemat dilehermu,
hingga kecantikanmu tiada pernah terurai.
Secarik nafas terus aku kejar menjagamu,
tiada waktu berhenti,
tiada pula mati...
Kamu sungguh menggairahkan,
Kamu sungguh melupakan,
Maaf, bila aku sedikit meninggalkanmu,
karena itu untuk kembali kepadamu..
Waktu itu kamu berjanji akan menjaga,
meniscayakan percaya menghilangkan murka,
aku mengerti,
meski tidak pasti..
Esok lusa aku akan berjalan menuju fajar elok nun jauh disana,
semua hanya untuk kembali kepadamu,
tautan kegilaan hati, hanya kepadamu,
dan kepadamu..
Akan aku ambil serpihan-serpihan kelopak bunga,
ku rangkai dan ku bingkai untuk persembahanmu,
Sebelum semua mengetahui, sudah tersemat dilehermu,
hingga kecantikanmu tiada pernah terurai.
Subscribe to:
Posts (Atom)