Aku berjalan ditemani suara berisik dan ku anggap musik,
menuju perhambaan yang membudak otak juga benak,
Aku mainkan langkah yang tak seharusnya dengan mengisinya,
Sempat bertanya aku pada malam yang menghampiri,
"Apa kabar keinginan disana?",
"Dia tidak tahu maumu", jawabnya
"Jadi dia masih akan tersenyum menunggumu",
"...Sampaikan salam maafku padanya", pintaku.
Butiran bening air hujan menyamakan butiran air mata,
Merahnya hati tak mampu menutup merah kemarahan,
Surabaya dan Malang, seakan memberitahukan nasib,
Sudut Ranupane anggun menatapku, dan memberiku senyum,
"Hai, selamat datang saudaraku", begitu sapamu,
"Apa kabar dan selimutmu Ranu Kumbolo?", Aku tepis dingin,
"Masih menanti kehangatan suhu badan para pendaki?",
31 tahun beranjak mengarungi pengaruh penambahan usia,
Matahari pagi dari puncak satu-satunya yang mengerti,
Kamu bebas memberi kehangatan tiada membeda atau mencela,
Aku hanya berharap semangatmu memenuhiku, saat aku turun.